Presiden AGSI Kunjungi Dieng

Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Sumardiansyah Perdana Kusuma mengunjungi situs-situs sejarah di kawasan Dieng Banjarnegara, Selasa-Rabu (29-30/10).
Dalam kesempatan itu, Presiden AGSI berziarah di makam Syaikh Manggoloyudho untuk mengenang keteladanan ulama penyebar Islam di Tanah Dieng itu. Ia juga menemui KH Nurrohman, tokoh agama setempat yang juga Tamir Masjid Baiturahman Dieng. Menurut Sumardiansyah, Dieng adalah kawasan yang menarik baik dari sisi alam maupun sejarah. “Identitas masa lalu Dieng dibangun dari semangat religiusitas yang tinggi, hal ini tampak dari jejak peninggalan Hindu-Buddha yang masih kokoh dalam kawasan Candi Arjuna dan keberlanjutannya pengaruh itu digantikan oleh perkembangan ajaran Islam yang cukup pesat dikawasan Dieng. Semangat ajaran Islam dimasa sekarang mampu berdampingan dengan pengaruh ajaran Hindu-Buddha yang masih tampak dari berbagai peninggalan bangunan maupun ritual budaya. Sadar atau tanpa disadari inilah bentuk sikap kosmopolit dan kebhinekaan yang tergambar dalam kehidupan masyarakat Dieng” tandas Sumardiansyah.

Ia juga tak melewatkan mengunjungi komplek candi Arjuna, dan mengamati beberapa batuan candi yang belum direkonstruksi. “Saya mendapat laporan dari anggota AGSI Banjarnegara kalau banyak bebatuan candi yang terserak dan tidak dilindungi oleh Perda Cagar Budaya. Dan saya amati memang jumlahnya cukup banyak. Karenanya saya mengapresiasi kepedulian guru sejarah di Banjarnegara yang mendorong disusunnya Perda Cagar Budaya. Kekayaan cagar budaya Dieng luar biasa, guru sejarah adalah pengawal peradaban, harus ikut aktif menjaga warisan budaya yang ada di sana. Kalau tidak, maka generasi mendatang bisa-bisa kehilangan banyak sekali sumber sejarah” tandasnya.
Sekretaris AGSI Banjarnegara Heni Purwono yang mendampingi kunjungan tersebut mengaku senang dapat menerima kunjungan Presiden AGSI. “Beliau meski masih muda, 30 tahun, namun sudah keliling hampir seluruh Indonesia. Dan Banjarnegara mendapatkan kehormatan untuk ikut dikunjungi, terlebih setelah kemarin anggota AGSI melihat banyak sekali batuan candi yang tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Ini menunjukan kawasan Dieng adalah potensi nasional, yang harus kita jaga bersama” ujar Heni.

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *