Sujiwo Tejo: Guru Bisa Memberi Berkah!

Sugih tanpo bondo, Digdoyo tanpo aji. 

Trimah mawi pasrah, Sepi Pamrih tebih ajrih

Langgeng tanpo susah, Tanpo seneng anteng mantheng

Sugeng jeneng

 Syair puisi karya RM Sosrokartono, kakak dari RA Kartini, di atas dilagukan dengan nada khas oleh Sujiwo Tejo. 500 guru sejarah yang ikut mendengarkan pun larut dalam suasana dan diajak menyanyi bersama. Berikutnya, syair puisi dengan banyak kata awalan “Mari kita tidak menghafal Pancasila” meluncur dari bibirnya.

Budayawan nyentrik yang pernah heboh dan viral dengan kata-kata bahwa Pancasila sudah tinggal gambar dan baris kata saja ini, turut menjadi narasumber dalam Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerjasama dengan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), Minggu (1/12) di Hotel Shangri La Surabaya.

Menurut Sujiwo Tejo, yang dimaksud dengan Pancasila saat ini sudah tidak ada, adalah dalam artian implementasinya. “Andai Pancasila itu ada di Indonesia, pasti perusahaan-perusahaan saldonya akan nol rupiah sebagaimana masjid-masjid di Yogyakarta yang semua uangnya dikembalikan untuk kemaslahatan umat. Kenyataannya saat ini, bahkan koperasi pun sebagai soko guru ekonomi Pancasila mati suri” terang Sujiwo.

Saat ini, tambahnya, nilai-nilai Pancasila hampir hilang dari masyarakat, dikalahkan oleh egoisme individual. “Pancasila itu peduli terhadap orang lain. Jadi mustinya tidak ada di bioskop itu orang sibuk membuka HP. Itu mengganggu orang lain, dan bukan nilai Pancasila” ujarnya.

Sujiwo juga mencontohkan bagaimana media menghilangkan unsur nilai ketuhanan dalam pemberitaannya. “Orang yang meninggal diberitakan akibat ini, itu. Padahal seharusnya ditulis, setelah ia melakukan ini, itu ia meninggal dunia. Eksistensi Tuhan harus ada di situ untuk menentukan kematian, kelahiran maupun jodoh. Selama saya jadi jurnalis, saya hati-hati terhadap hal kecil semacam itu, karena itu menyangkut eksistensi Tuhan” tandasnya.

Berkah guru

Kaitannya dengan pendidikan saat ini dimana siswa banyak belajar dari aneka media, Sujiwo menegaskan bahwa guru, orang tua, kyai, tidak dapat tergantikan oleh media apapun. “Seperti Pancasila, ia ada unsur sopan santun, roso, yang tidak bisa disamakan dengan media apapun. Anak mungkin bisa belajar dari youtube, tapi mereka tidak akan mendapatkan berkah dari youtube. Berkah hanya didapat dengan sopan santun dan mencium tangan gurunya. Karenanya, itu menjadi tantangan bagi guru, bagaimana guru bisa membangun suasana keharuan, kecintaan terhadap Pancasila, sebagaimana seorang anak terhadap orang tua ataupun sebaliknya” pungkasnya.

Kontak Humas AGSI
Heni Purwono
085640554517, purwono.heni@gmail.com,
agsi.or.id

#persamuhanpendidikpancasila #ceritapancasila
#pancasiladariruangkelas
#bpip
#asosiasigurusejarahindonesia
#gurusejarah
#BPIP_RI_AGSI

 

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *