Bareng Den Baguse Ngarso, AGSI Jogja Diskusi Buku Geger Sepehi

Bertempat di Pendopo Omah Dhuwur Kotagede Yogyakarta, Selasa (10/12) Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Yogyakarta dengan menggandeng komunitas kesejarahan seperti Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) dan Komunitas Djogjakarta 45 meluncurkan buku berjudul “Geger Sepehi” yang ditulis oleh pakar-pakar sejarah seperti Prof. Sri Margana, Dwiratna Nurhajarini, Baha’ Uddin, dan Uji Nugroho. Peluncuran dalam bentuk softcopy tersebut dibedah oleh Umar Priyono dan moderator disampaikan dengan renyah oleh seniman Yogyakarta yang beken di TVRI tahun 1990-an, Den Baguse Ngarso.

Tujuan Dinas Kebudayaan meluncurkan buku yang bertajuk “Peristiwa Geger Sepehi Dalam Kajian Historiografi” adalah untuk memberikan  pengetahuan kepada masyarakat tentang adanya sejarah lokal yang cakupannya menasional karena tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu reputasinya sudah menasional seperti Sultan Hamengku Buwono II, Raffles, Mangkunegara II, dan lain sebagainya. Diharapkan setelah adanya revitalisasi tembok Benteng Lor Wetan (gudang mesiu keraton) yang hancur sampai saat ini karena diledakkan oleh meriam Inggris, masyarakat tidak melupakan sejarah kepahlawanan Sultan Hamengku Buwono II dengan keberadaan buku ini.

Sudah beberapa sejarawan maupun orang-orang yang terlibat dalam peristiwa Geger Sepehi menulis tentang peristiwa berdarah itu. Misalnya Peter Carey (sejarawan) dan Mayor William Thorn tentara Inggris yang terlibat dalam perang itu dan Tim Hannigan yang bukunya menelusuri tentang Raffles. Sumber lokal seperti Babad Panular,  Babad Mangkudiningrat, dan babad Pakualaman juga mewarnai tulisannya tentang Geger Sepehi. Dari berbagai sumber itu tentu saja mempunyai subyektifitas sendiri-sendiri sehingga keberadaan buku ini nantinya akan memberikan informasi segar karena ditulis oleh para sejarawan secara kritis dengan tidak mempunyai kepentingan dalam peristiwa tersebut. Untuk itulah buku ini diberi judul “Peristiwa Geger Sepehi Dalam Kajian Historiografi”.

Peristiwa Geger Sepehi sendiri merupakan bentuk penyerangan Inggris di keraton Yogyakarta yang saat itu dipegang oleh Sultan Hamengku Buwono II. Dikatakan Geger Sepehi karena menceriterakan keterlibatan prajurit Sepehi (Bengali) dalam penyerbuan pada tanggal 18, 19, 20 Juni 1812. Kata Sepehi sendiri merupakan aksen Jawa karena ada juga yang menyebut Sepoy, Spehi, Sepahi, dan Sipahi.

Setelah Belanda  ditangan Gubernur Jenderal Janssens (pengganti Daendels) kalah perang dengan Inggris memerebutkan tanah Jawa sehingga Belanda harus menyerah tanpa syarat di atas jembatan Tuntang Salatiga. Kekalahan Belanda terhadap Inggris itu dimanfaatkan Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepuh) naik tahta kembali yang sempat dicopot oleh Daendels dari singgasananya menggantikan putranya. Sebagai bangsa yang mengibarkan panji-panji kolonialisme ternyata Raffles meneruskan kebijakan Daendels karena sangat menguntungkan Kompeni Inggris. Raffles juga menekan agar Sultan Hamengku Buwono II  tunduk pada aturan-aturan yang digariskan Inggris.

Raffles mengancam apabila Sultan Sepuh tetap membangkang aturan Inggris maka Sultan Sepuh akan diturunkan secara paksa dari tahtanya dan digantikan oleh Putra Mahkota. Sultan Sepuh tidak peduli dengan aturan itu sehingga keraton Yogyakarta diserang oleh tentara Inggris-Sepoy yang dikenal dengan Geger Sepehi.

Penyerangan yang dipimpin oleh Kolonel (pasca 1812, Mayor Jenderal Sir) Robert Rollo Gillespie itu dapat menghancurkan keraton Yogyakarta sehingga Sultan harus menyerah tanpa syarat. Penyerangan disertai dengan penjarahan emas, berlian, uang dan manuskrip-manuskrip kekayaan keraton Yogyakarta. Penjarahan tidak hanya dilakukan oleh prajurit rendahan Inggris-Sepoy tetapi juga dilakukan oleh Letnan Gubernur Raffles, Residen Yogyakarta John Crawfurd dan panglima militer Inggris Kolonel Gillespie.

Sultan Sepuh akhirnya ditawan Inggris sehingga merasa terhina karena senjata, baju bahkan kancing bajunya yang terbuat dari berlian juga dijarah oleh tentara Inggris-Sepoy. Sultan Sepuh  digiring berjalan kaki dari kedaton melewati Alun-alun Utara menuju benteng Vredeburg. Putra Mahkota akhirnya diangkat  menjadi Sultan Hamengku Buwono III dan dilantik Raffles di kediaman residen Yogyakarta. Setelah dipaksa turun dari tahtanya Sultan Sepuh dibuang ke Pulau Penang untuk dijauhkan dari pengikutnya yang setia. (Sumber: Wahyudi_AGSI DIY)

 

 

Tulisan ini dipublikasikan di Berita AGSI. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *