Talkshow AGSI: Kiprah Perempuan Dalam Kancah Pengajaran Sejarah

Flyer Kiprah Perempuan dalam Pengajaran Sejarah

Berbicara tentang peran perempuan dalam sejarah, kebanyakan orang mungkin hanya mengingat dan mengetahui segelintir nama yang pernah berjasa dalam membangun dan memberi warna perjalanan sejarah bangsa ini. Kita tidak bisa pungkiri bahwa sebenarnya perempuan bukan tidak ada sama sekali kiprahnya dalam sejarah panjang bangsa Indonesia. Sejarah mencatat tentang kisah Kartini, Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, K’tut Tantri dan lain sebagainya. Perjuangan mereka dijadikan bukti bahwa perempuan punya kiprah dalam sejarah yang bisa diambil hikmahnya, diteladani dan dicontoh semangatnya. Sejarah juga mencatat banyak pemimpin perempuan di masa lalu, contohnya Ratu Boko.

Peringatan Kartini pada tahun 2020 ini telah memasuki usia ke- 56 tahun. Semangat dan ide-ide Kartini tentang emansipasi bagi kehidupan perempuan Indonesia tidak lekang dalam ingatan kolektif bangsa ini. Mengingat ke belakang kita melihat ide-ide cemerlang tentang itu ia tuliskan dalam surat-suratnya kepada Stella Zeehandelar, Nyonya Abendanon dan kawan-kawan Belandanya. Walaupun kita juga tidak bisa mengklaim bahwa Kartinilah yang memulai semua itu sehingga perempuan-perempuan di Indonesia menginginkan perubahan kondisi kehidupan mereka. Namun Hari Kartini 2020 yang ke 56 ini tidak berlangsung meriah seperti di tahun sebelumya, karena terjadi di tengah wabah pandemi corona. Sehingga mengharuskan kita untuk bersama-sama berjuang melawan coronavirus dengan tetap #DiRumahAja.

Emansipasi yang dicita-citakan Kartini dan juga perempuan-perempuan luar biasa lainnya kini telah terlihat secara luas dan bertahap dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Perempuan di Indonesia telah bisa sejajar dan setara dengan kehidupan Laki-laki dalam segala bidang profesi salah satunya pengajar seperti guru dan dosen. Peran wanita sebagai pengajar tidak kalah dengan laki-laki dalam mendidik dan mentransfer ilmu pengetahuan. Banyak pengajar perempuan memiliki prestasi yang patut dibanggakan.

Dengan semangat ini maka Asosiasi Guru Sejarah Indonesia menyelenggarakan Talkshow atau Bincang Bicara dengan Pengajar Sejarah Perempuan dengan tema “Kiprah Perempuan Dalam Kancah Pengajaran Sejarah” yang sukses diselenggarakan pada hari Sabtu, 25 April 2020 Pukul 14.00- 17.00 secara daring via aplikasi Zoom. Talkshow ini diikuti kurang lebih 90 peserta yang telah mendaftar sebelumnya. Adapun pemateri dalam Talkshow ini antara lain Dra. Ratna Hapsari, M.Si (Presiden AGSI 2007-2017 sekaligus Penulis Buku), Dr. Kurniawati, M.Si (Kaprodi Program Pascasarjana Pendidikan Sejarah UNJ), Rahma Wati, M.Pd (Waka. Dept. Profesi dan Kompetensi AGSI, Juara 1 Gupres SMK 2018), Asis Alim Utami, S.Pd (Guru Sejarah Perbatasan Papua) dan Widia Munira, M.Pd (Guru Sejarah Aceh).

“Perempuan adalah sosok yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan manusia”, kata Presiden AGSI, Sumardiansyah Perdana Kusuma dalam acara Talkshow yang menjadi awal pembukaan acara tersebut. Selanjutnya beliau memberikan pemaparan bahwa data Pahlawan Nasional hingga tahun 2019 jumlahnya adalah 185 orang. ”Uniknya dari 185 orang Pahlawan Nasional, 171 orang itu didominasi laki- laki, sisanya 14 orang perempuan. Pertanyaannya, apakah masih terjadi bias Gender dalam menentukan Pahlawan Nasional?”, lanjut Presiden AGSI.

Kemudian lebih jauh lagi beliau menyoroti terkait pengajaran Sejarah di Indonesia. Menurutnya, sangatlah penting bagi seorang guru sejarah memberikan gambaran yang utuh tentang peristiwa sejarah, artinya pengajaran sejarah yang holistic, komprehensif dan juga proposional. Beliau berharap, AGSI ataupun guru Sejarah pada umumnya bisa memberikan pemahaman bahwa dalam narasi sejarah muatan- muatan yang bersifat feminis, yang bersifat perempuan perlu diangkat. Sehingga nanti Sejarah kita tidak hanya terpaku pada sejarah kaum laki- laki. Jangan sampai masyarakat memandang sejarah Indonesia ataupun sejarah pada umumnya bersifat maskulin.

Setelah sambutan dari Presiden AGSI, acara Talkshow ini dilanjutkan dengan serangkaian materi yang disampaikan secara bergantian oleh ke-5 pemateri yang hadir pada sore itu. Dra. Ratna Hapsari, M. Si, merupakan pemateri pertama. Beliau ini banyak menceritakan tentang pengalamannya selama menjadi siswa yang mempunyai hobi menulis diary hingga akhirnya menjadi guru sejarah serta kini menjadi seorang penulis sejarah yang terkenal. Menurutnya, sejarah itu bersifat humaniora, visioner dan kontroversi. Oleh sebab itulah kemampuan literasi maupun kemampuan menalar sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan Historia Thinking. Di samping itu beliau menyampaikan bahwa membaca bukan sekedar untuk belajar, tetapi membaca untuk belajar.

“Selama ini pelajaran sejarah sering kali dipandang sebelah mata”, tutur pemateri kedua yaitu Dr. Kurniawati, M. Si. Oleh sebab itulah menurut beliau sudah menjadi tantangan dan tugas guru di masa kini untuk menghapus citra pelajaran sejarah yang selama ini dianggap menjemukan dan membosankan, padahal dalam sejarah juga dikenal sebuah konsep yang disebut sebagai literasi sejarah. Seakan menjawab dari apa yang disampaikan oleh pemateri kedua, Widia Munira, M. Pd yang menjadi pemateri ke-3 menceritakan bagaimana trik beliau menumbuhkan minat belajar siswa pada pelajaran sejarah di sekolah tempat beliau mengajar. Adapun trik yang beliau terapkan adalah penghapusan sistem CBSA (Catat Buku Sampai Abis) yang selama ini mengakar dalam proses pelajaran sejarah. Sebagai gantinya, diterapkan metode yang disebut Note History serta menerapkan pembelajaran sejarah sesuai bakat dan minat siswa. Hasilnya, siswa yang mempunyai hobi menggambar, bisa menghasilkan sebuah komik sejarah. Hal senada disampaikan oleh pemateri ke-4, Asis Alim Utami, S. Pd. Berjarak 40Km antara rumah dan sekolah, ternyata tidak membuat beliau ini patah semangat dalam mencerdaskan anak bangsa. “Seorang guru harus mempunyai beragam metode dalam mengajar”, kata guru sejarah yang mengajar di perbatasan Papua ini.

Selanjutnya, sebagai pemateri penutup dalam talkshow pada sore hari itu Rahmawati, M. Pd, memberikan materi yang tak kalah menarik dan membuat peserta tetap semangat. Beliau menceritakan keterbatasan jam mengajar di SMK bukanlah sebuah kendala untuk terus mengaktualisasikan diri. Seperti yang kita ketahui, jam pelajaran sejarah di SMK berbeda jauhdari SMA maupun MA. Dalam keterbatasan jam mengajar, beliau memanfaatkan 3 hari lainnya untuk terus berkarya dan terus berinovasi hingga akhirnya beliau mampu menjadi juara Gupres tingkat SMK pada tahun 2018.

Meskipun acara ini dilaksanakan secara online di tengah pandemi Covid-19 serta sebagian peserta dalam keadaan puasa, namun antusias dan semangat peserta tidak berkurang sedikitpun. Hal ini terlihat setelah presentasi dari Rahmawati, M. Pd, acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi atau tanya jawab. Para peserta sangat antusias dalam mengutarakan komentar, masukan ataupun pertanyaan dalam sesi diskusi tersebut. Moderator diskusi, Aprilia Nur Hasanah, S. Pd, menutup diskusi Talkshow pada sore itu dengan mengutip pernyataan dari Kartini yaitu “Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba, jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang”. (Aprilia N.H)

Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *