Musyawarah Pembentukan AGSI: Selamat Datang AGSI Jawa Timur 

Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Provinsi Jawa Timur (AGSI Jatim) terbentuk. Bertempat di aula SMAN 2 Kediri (Sabtu, 24/12/2018) lalu Presiden AGSI Sumardiansyah Perdana Kusuma didampingi sekjen Ismail melantik guru guru sejarah Jawa Timur yang terpilih sebagai pengurus masa bhakti 2018-2023.

Musyawarah Pembentukan AGSI Jatim

Dalam kata sambutannya, Sumardiansyah mengatakan, AGSI lahir bukan sebagai “musuh” MGMP sejarah yang sudah ada. AGSI hadir untuk menciptakan ruang baru bagi guru guru sejarah untuk meningkatkan kualitas profesionalnya. “Rumah bapak dan ibu yang sebenarnya adalah di MGMP. Kalau ingin berkarya, bapak dan ibu bisa ke luar rumah. Mengembangkan diri dalam lingkup yang lebih luas, Nah, tempat yang tepat ya di AGSI,” jelasnya.
Oleh karena itu pihaknya berharap agar pengurus AGSI tidak melakukan kegiatan  kegiatan  yang  selama  ini  sudah dilakukan MGMP. Misalnya, menyusun  perangkat  pembelajaran. “Kami berharap pengurus ini merancang kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan profesional berkelanjutan bagi anggota serta meningkatkan kesadaran sejarah bagi masyarakat, bisa juga membuat pelatihan advokasi agar guru sejarah melek hukum” sambung Rian, sapaan akrab Sumardiansyah Perdana Kusuma.

Priyandono menerima berita acara pembentukan AGSI Jatim dari Sumardiansyah

Mas Pres begitu dia disapa dalam kesempatan itu juga menghimbau pengurus dan anggota AGSI agar berkoordinasi dan bekerja sama dengan MGMP, Pemerintah Daerah dan Komunitas-komunitas penyuka sejarah.
“Lakukan Koordinasi dan kerjasama yang baik dengan instansi terkait. Jangan menciptakan suasana rivalitas,'” pesannya.
Sementara itu Ketua terpilih, Priyandono mengaku siap mengemudikan AGSI hingga akhir masa bhaktinya.  Guru sejarah di SMAN 1 Gresik itu siap mengemban amanah sejawatnya. “Saya siap mengawal organisasi ini, tapi saya ini tidak ada artinya tanpa dukungan kawan-kawan semua. Mari kita kendalikan bersama. Kita bersama sama beraksi di AGSI, ” tukasnya usai dilantik. (Pri)
Ditulis pada Uncategorized | 1 Komentar

Musyawarah Pembentukan AGSI DKI Jakarta

Semangat Guru-guru  Sejarah dari tingkat SMA, SMK dan MAN di DKI Jakarta untuk mendirikan suatu organisasi profesi telah terwujud dalam pembentukan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI). Bertempat di SMA Negeri 70 dengan musyawarah bersama pada Jumat (9/2)  para Guru Sejarah SMA, SMK dan MA membentuk AGSI DKI Jakarta.

Kegiatan pembentukan AGSI DKI Jakarta ini bersamaan dengan kegiatan MGMP SMA Sejarah Provinsi DKI Jakarta. Meskipun demikian diundang pula perwakilan dari SMK dan MA untuk ikut bersama dalam AGSI Dalam pembentukan AGSI DKI Jakarta dibuka oleh Drs. Warsono, M.Pd sebagai Sekjen AGSI Pusat. Dalam sambutannya ia mengatakan AGSI DKI Jakarta menjadi model dari cabang-cabang AGSI yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Dengan hadirnya AGSI di Jakarta dapat pula membantu guru-guru mengembangkan dalam bidang keprofesian sebagai guru sejarah.

Dalam pertemuan ini juga secara aklamasi telah terpilih Drs. Suparman, S.H guru sejarah SMAN 2 Jakarta sebagai ketua AGSI DKI Jakarta.  Segera setelah terpilih dibentuk susunan kepengurusan AGSI DKI Jakarta yang memadukan sinergi antara golongan tua dan golongan tua seperti halnya kerjasama pada saat menjelang kemerdekaan. Dalam sambutannya sebagai ketua AGSI DKI Jakarta, ia mengatakan Semoga AGSI DKI Jakarta bisa menjadi bagian dari gerakan AGSI se-Indonesia untuk melahirkan dan mewujudkan guru-guru sejarah sebagai ujung tombak peradaban bangsa. Dengan kolaborasi bersama bisa mewujudkan guru-guru sejarah yang profesional,  makmur-sejahtera dan terlindungi

Pembentukan AGSI DKI Jakarta ini juga diapresiasi oleh Sumardiansyah Perdana Kusuma sebagai Presiden AGSI. Dalam kesempatan terpisah ia mengatakan bahwa “pembentukan AGSI DKI Jakarta semoga dapat menjadi role model bagi AGSI-AGSI di daerah lainnya. Sinergitas dan harmonisasi antara AGSI Pusat dan MGMP perlu dibangun dalam rangka mencapai tujuan terutama yang menyangkut kepentingan Guru Sejarah. Partisipasi keorganisasian perlu dibangun tanpa melihat batasan usia tua-muda, negeri-swasta, PNS-Non PNS, maupun jenjang baik itu SMA-SMK-MA. Semua harus dirangkul dan bersatu di bawah AGSI”, tutup Sumardiansyah. (Dms)

 

Ditulis pada Uncategorized | 1 Komentar

Pembentukan AGSI Provinsi Sumatera Barat

Pengurus Inti AGSI Provinsi Sumbar

Sabtu, tanggal 26 Januari 2019 bertempat di Aula SMPN 2 Padang, jalan Bundo Kanduong (depan Hotel Ambacang/Axana) kota Padang, telah terbentuk AGSI Provinsi Sumatra Barat yang diikuti oleh Perwakilan  MGMP Sejarah dari beberapa kabupaten kota  di Sumatera Barat tingkat  SMP, SMA dan SMK.

Etty Kasyanti sebagai Ketua MGMP Sumatera Barat dan sekaligus pemegang mandat dari Presiden  AGSI Pusat Sumardiansyah, memberikan apresiasi kepada teman-teman guru yang merupakan perwakilan MGMP  dari berbagai Kabupaten/Kota di Sumatera Barat yang telah ikut mensukseskan kegiatan ini.

Kegiatan ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, dan dilanjutkan dengan musyawarah pembentukan AGSI Provinsi Sumatera Barat.

Suasana Musyawarah Pembentukan AGSI Sumbar

Ketua MGMP Sumatera Barat menyampaikan dalam pembukaanya bahwa AGSI  adalah  organisasi profesi yang bersifat profesional, terbuka, independen, mandiri dan bukan partai politik yang bertujuan untuk :

  1. Meningkatkan keprofesionalan anggota;
  2. Memperjuangkan hak-hak anggota;
  3. Memberikan perlindungan kepada anggota;
  4. Meningkatkan peran serta anggota dalam menanamkan semangat nasionalisme, jiwa patriotisme, dan rela berkorban dalam mengisi kemerdekaan;
  5. Meningkatkan peran serta anggota dalam menanamkan kesadaran tentang keberagaman sebagai sumber kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa;
  6. Meningkatkan peran serta anggota dalam berkontribusi terhadap pemajuan dunia pendidikan, kesejarahan, dan kebudayaan.

Seperti yang tertuang dalam  dalam   AD AGSI  Bab III pasal 8, jelas Etty.

Dalam mengakhiri sambutannya pemegang mandate ini menekankan bahwa pembentukan AGSI Provinsi sangat diperlukan, supaya guru-guru didaerah juga bisa mengikuti informasi dan kegiatan yang dilakukan oleh AGSI Pusat dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru terutama guru-guru Sejarah. Dan dalam hal ini perlu kerja sama yang baik antara MGMP dengan  AGSI

Supaya  tidak terjadi pemahaman yang tumpag tindih pada guru-guru atau dualisme kepemimpinan dilapangan, maka ketua MGMP kota Padang bu Edrihanif, S.Pd mengusulkan agar pengurus MGMP Propinsi  juga menjadi  pengurus AGSI, sehingga tujuan dalam meningkatkan kompetensi guru bisa sejalan. Dan usulan ini mendapat sambutan dan  dukungan dari perwakilan MGMP kabupaten lainnya.

Pemilihan pengurus AGSI Sumatera Barat dilakukan secara aklamasi yang dipandu langsung oleh ketua MGMP kota Padang (Edrihanif), didalam  proses pemilihan suara bulat kepada pemegang mandate sekaligus sebagai ketua MGMP Provinsi Dra. Etty Kasyanti.

Dengan terbentuknya AGSI Sumatera Barat diharapakan guru – guru sejarah  di Sumaetra Barat khususnya dan Indonesia umumnya semakin kompak, saling berbagi dan  dapat meningkatkan kompetensi baik lewat MGMP maupun lewat AGSI.

Perwakilan Kabupaten/Kota Guru Sejarah Sumbar

Dalam sambutan terakhir Dra. Etty Kasyanti menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

  1. Bapak Sumardiansyah, Presiden AGSI Pusat sekaligus sebagai inspirator dan motivator  terbentuknya AGSI Provinsi Sumatra Barat.
  2. Bapak Drs. Khairul Jasmi,M.M (Pemimpin Redaksi Harian Singgalang dan Komisaris PT. Semen Padang) yang telah menyumbangkan konsumsi untuk kegiatan ini.
  3. Ibu Dra. Witra Dewi, MM ( kepala SMPN 2 Padang) yang telah memfasilitasi tempat dan sarana lainnya untuk kelancaran kegiatan ini
  4. Bapak/Ibu guru sejarah sebagi perwakilan dari MGMP kabupaten lainnya di Sumatera Barat (edr)
Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Open Public: Laporan dan Progress AGSI (1)

LAPORAN DAN PROGRESS AGSI

Ditulis pada Uncategorized | 2 Komentar

Seri Guru Sejarah Berprestasi: Abdul Somad Guru Sejarah Banten Penerima Sartono Kartodirdjo Award 2018

Abdul Somad, Peraih Sartono Kartodirdjo Award 2018

Tahun 2018 adalah momen paling inspiratif bagi para insan sejarah di Indonesia. Oleh karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk pertama kalinya memberikan anugerah apresiasi bernama Sartono Kartodirdjo Award. Mengutip laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, penggunaan nama Sartono Kartodirdjo sebagai nama apresiasi ini tidak terleps dari jasa beliau sebagai pelopor penulisan sejarah Indonesia sentris yang telah memberikan dampak besar bagi perkembangan historiorafi di Indonesia.

Terdapat lima bidang apresiasi, yaitu disertasi sejarah terbaik, buku sejarah terbaik, penyelamat sumber sejarah, komunitas penggiat sejarah dan guru sejarah berprestasi. Tim penilai dipimpin oleh dari Direktur Sejarah, Dr. Triana Wulandari, M.Si dengan anggota tim antara lain Dr. Sri Margono (UGM), Dr. Jajat Burhanudin (UIN Jakarta), Dr. Abdul Syukur (UNJ) dan Dr. Linda Sunarti (UI). Khusus bagi penerima penghargaan guru, ada 7 (tujuh) kualifikasi yang ditetapkan. Pertama, memiliki pengabdian sebagai guru sejarah minimal 15 tahun; kedua, usulan nama calon diajukan melalui rapat MGMP disertai berita acara; ketiga, memiliki inovasi metode pembelajaran; keempat, Biodata (CV); kelima, memiliki penghargaan dalam bidang pengajaran; keenam, memiliki pengalaman sebagai fasilitator dan ketujuh, produktif dalam membuat karya tulis.

Abdul Somad bersama para peraih apresiasi bidang Kesejarahan

Berdasarkan hasil penilaian Tim Penilai yang diumumkan pada kegiatan Seminar Sejarah Nasional Tahun 2018 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada tanggal 3 Desember 2018, ditetapkan sebagai penerima penghargaan guru sejarah berprestasi adalah Abdul Somad, SS., M.Pd.; Guru Sejarah SMAN 1 Ciruas, Kebupaten Serang Provinsi Banten. Bagi Abdul Somad, penghargaan ini ia yakini sebagai berkah dan rahmat dari Alloh SWT; bukan semata-mata banyaknya prestasi yang ia peroleh selama mengabdi menjadi guru selama 15 tahun. Meski ia dapat mengungguli sejumlah kandidat lain dari beberapa provinsi, menurutnya, masih banyak guru sejarah lainnya di seluruh Indonesia yang masih lebih baik dibanding dirinya. Dengan merendah, Ia menambahkan bahwa dirinya hanya beruntung dengan sedikit pandai memanfaatkan kesempatan yang ada.

Menurut penuturan Abdul Somad, pada awalnya ia tidak berniat mengajukan diri. Surat edaran terkait calon kandidat penerima apresiasi ia posting di sosial media guru sejarah se-provinsi Banten. Ia yang mengemban amanah sebagai Ketua MGMP Sejarah Provinsi Banten, juga merasa perlu untuk meneruskan informasi kepada seluruh ketua-ketua MGMP Sejarah Kab/Kota, termasuk kepada guru-guru senior melalui jaringan pribadi. Hanya saja menjelang akhir waktu pengajuan belum ada guru yang merespon. Atas saran para pengurus MGMP, akhirnya diputuskan agar ia menjadi kandidat.

Abdul Somad adalah alumnus Ilmu Sejarah Universitas Padjdjaran (UNPAD). Meski bukan berlatarbelakang dari lembaga kependidikan, ketertarikan pada profesi keguruan ia dapatkan dari ayahnya yang seorang guru madrasah. Ia mulai mengajar sejarah sejak tahun 2002. Setelah memperoleh ijazah Akta 4, ia berkesempatan mengabdikan dirinya sebagai guru PNS dengan mengajar di SMAN 1 Padarincang Kabupaten Serang yang berjarak 40 km dari tempat tinggalnya. Pada tahun 2011 ia menyelesaikan pendidikannya di sekolah pascasarjana program studi Teknologi Pembelajaran dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Serang.

Abdul Somad bersama MGMP Sejarah Provinsi Banten

Akselerasi pengembangan profesi sebagai guru sejarah ia dapatkan setelah ia mutasi ke SMAN 1 Ciruas. Sekolah ini SMA tertua di Kabupaten Serang yang menjadi salah satu piloting implementasi Kurikulum 2013. Seiring dengan program sosialisasi dan implementasi Kurikulum 2013 yang gencar dilakukan pemerintah, Abdul Somad pun mendapatkan berkah untuk dapat mengikuti sejumlah pendidikan dan pelatihan terkait. Bahkan ia juga diberi tugas sebagai fasilitator dan pendamping pelaksanaan kurikulum, terutama di wilyahnya di Provinsi Banten. Ruang berkegiatan menjadi semakin luas setelah Direktorat Sejarah Kemdikbud bersinergi dengan MGMP dalam melaksanakan program Workshop Kesejarahan Guru Sejarah, 2013-2016. Pada masa ini, ia selalu eksis mengabdikan dirinya sebagai fasilitator dan tujuan mulia untuk peningkatan kinerja guru sejarah di daerahnya. Revitalisasi guru pun ia lakukan dengan cara memanfaatkan program yang digulirkan Direktorat Sejarah dan Direktorat Guru dan Tenaga Pendidikan GTK). Diantaranya melalui program bantuan Guru Pembelajar (2016), Penyusunan USBN (2017) dan Program Fasilitasi Kesejarahan Event Sejarah (2018).

Di kegiatan internal-mandiri, MGMP yang dipimpinnya pernah mengadakan lawatan sejarah ke Malaka, Malaysia yang diikuti guru-guru sejarah se-Provinsi Banten. Pergaulan dan pergulatan di MGMP Sejarah sepanjang 2008-2018 yang ia alami sudah ia tulis dalam sebuah buku berjudul “Memoar Seorang Pegiat MGMP” yang diterbitkan Cipta Media Edukasi, Surabaya. Buku ini juga banyak menceritakan pengalamannya bersama-sama guru sejarah Indonesia di beberapa kegiatan. Diantaranya: Penguatan Nilai Budaya di Gunung Mas Kalimantan Tengah (2015) dan Internalisasi Nilai Kebangsaan di Riau dan Malaka (2017).

Beberapa penghargaan yang pernah ia peroleh dalam 5 (lima) tahun terakhir adalah: Peserta terbaik Workshop Pendampingan Pelaksanaan Kurikulum 2013 Tingkat Provinsi (2014), Peringkat terbaik Uji Kompetensi Guru (UKG) Mata Pelajaran Sejarah Provinsi Banten (2015), Pembimbing Juara I Olimpiade Pahlawan Indonesia Tingkat Provinsi sekaligus Finalis Tingkat Nasional (2015) dan Finalis Bidang Sejarah Olimpiade Guru Sejarah Nasional (OGN) Tingkat Nasional (2016). Karya tulis yang pernah ia publikasikan diantaranya: “Proses Pembelajaran Sejarah Melalui Pengembangan Strategi Pembelajaran Kooperatif” (Untirta, 2011), “Pemikiran dan Pergerakan Pan Islamisme di Indonesia Pada Awal abad Ke-20” (Jurnal Candrasangkala, 2015), “Menggali Minat Belajar Sejarah” (Koran Radar Banten, 2016), “Memoar Seorang Pegiat MGMP” (Cipta Media Edukasi, 2018) dan karya yang terakhir yang ia dediksikan untuk pengintegrasian sejarah lokal Banten dalam kurikulum pembelajaran sejarah di sekolah yaitu buku berjudul “Ikhtisar Sejarah Banten dari Masa Kesultanan Hingga Kemerdekaan” yang diterbitkan MGMP Sejarah Provinsi Banten, 2018.

Abdul Somad bersama Pengurus Pusat AGSI

Mengenai keberadaan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) dan MGMP, Somad melihat keduanya memiliki peluang sinergi dan prospek yang lebih besar kedepannya. Ia juga berupaya untuk memperluas relasi dan organisasi dengan berkomitmen pada pembentukan AGSI di Provinsi Banten, dengan harapan dapat terhimpun kebersamaan yang lebih besar dengan sesama guru sejarah di lintas wilayah dan lintas lembaga. Bagi Sumardiansyah Perdana Kusuma (Presiden AGSI), pengalaman dan kemampuan Abdul Somad dalam mengembangkan MGMP serta merangkul guru-guru Sejarah di Provinsi Banten adalah sebuah contoh bagaimana kebermanfaatan dibangun dari lingkungan sekitar.

Selain aktif dalam organisasi, dedikasi Somad untuk pengembangan bidang kesejarahan didaerahnya ia usahakan dengan menjadi dosen luar biasa di Pendidikan Sejarah UNTIRTA Serang. Selain itu ia punya harapan besar agar Sejarah Lokal Banten dapat diintegrasikan dalam pembelajaran sejarah di sekolah, bahkan lebih tinggi dari itu yaitu mengusahakan agar Sejarah Lokal Banten bisa ditetapkan sebagai Muatan Lokal Provinsi melalui Peraturan Daerah atau Peraturan Gubernur sehingga sejarah dapat dipahami lebih kontekstual. Meski harus tetap berkomitmen kepada NKRI.

Ditulis pada Seri Guru Sejarah Berprestasi | 2 Komentar

Pembentukan AGSI Daerah Istimewa Yogyakarta

Pada hari Senin, 26 November 2018, bertempat di SMAN 1 Yogyakarta diadakan musyawarah yang dihadiri oleh perwakilan pengurus MGMP Kabupaten/Kota se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam rangka pembentukan AGSI DIY.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Drs. Ismail selaku Wakil Sekjen I AGSI. Dalam sambutannya, Drs. Ismail mengutip pembukaan AD/ART AGSI “Sesungguhnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru dalam menjalankan tugasnya berhak memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi yang bersifat independen. Organisasi profesi tersebut adalah perkumpulan yang berbadan hukum yang didirikan dan diurus oleh guru untuk mengembangkan profesionalitas guru. Undang-Undang ini juga mengamanatkan kewajiban guru untuk memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik, adanya hak-hak dan kewajiban guru serta hak guru untuk memperoleh penghargaan dan perlindungan”.

Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan musyawarah yang menghasilkan Wahyudi, S.Pd (Guru Sejarah SMAN 2 Bantul) sebagai Ketua AGSI Provinsi DIY dan Drs. Marmayadi (Guru Sejarah SMAN 1 Yogyakarta) sebagai Wakilnya.

Penyerahan SK Pembentukan AGSI Provinsi DIY oleh Drs. Ismail kepada Ketua terpilih, Wahyudi, S.Pd

Setelah berhasil memilih Ketua dan Wakil, pengurus inti berkewajiban melengkapi susunan kepengurusan AGSI Provinsi DIY sesuai AD/ART yang berlaku dengan mempertimbangkan usulan nama-nama dari MGMP Kabupaten/Kota se-DIY dalam kurun waktu sebulan. “Insha Allah kami akan secepatnya menyempurnakan susunan kepengurusan dengan tetap mengakomodir usulan dari MGMP Kabupaten/Kota, sehingga hasilnya representative dan bisa diterima semua pihak, ujar Wahyudi”.

“AGSI yang dibentuk sejak tahun 2005 di Malang telah memiliki sejarah panjang dan mengalami dinamika organisasi dalam rangka ikut membantu menjadikan guru sejarah menjadi sosok-sosok professional dan produktif. Sebagai salah satu yang turut serta dalam membidani lahirnya AGSI, saya berharap ke depan eksistensi AGSI mampu menjawab tantangan perkembangan pendidikan millenia di Indonesia, terkhusus mampu menjalankan amanah pemerintah melalui Kurikulum 2013 yang telah memberikan iklim yang baik bagi pendidikan sejarah di satuan pendidikan, ujar Maria Goretti (Guru Sejarah SMAN 1 Prambanan)”.

Pengurus AGSI Provinsi DIY

Hj. Tri Lestari, M.Pd selaku Ketua MGMP Provinsi DIY berkomitmen akan ikut memantau dan menjalin komunikasi dengan pengurus AGSI Provinsi DIY yang baru terbentuk. Pada kesempatan lain melalui pesan singkatnya, Sumardiansyah Perdana Kusuma (Presiden AGSI) berpesan agar selalu terjalin hubungan yang sinergis dan harmonis antara AGSI Provinsi DIY dengan MGMP Provinsi DIY. “Sesungguhnya keberadaan AGSI berakar dari dan untuk memperkuat MGMP, tentu dalam lingkup yang lebih luas, professional dan independen” tutup Sumardiansyah.

 

Ditulis pada Pembentukan AGSI Provinsi | 1 Komentar

MGMP dan AGSI Hadiri Pra Kongres Kebudayaan Indonesia

Perwakilan Bidang MGMP bersama Direktur Sejarah, Dra. Triana Wulandari, M.Si

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) diundang oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud untuk menghadiri Pra Kongres Kebudayaan Indonesia, 4-6 November 2018 di The Sultan Hotel and Residence Jakarta. Selain MGMP dan AGSI, kegiatan Pra Kongres Kebudayaan ini dihadiri oleh perwakilan yang meliputi beberapa bidang, yaitu Infrastruktur dan kelembagaan seni; seni pertunjukan; seni musik; manuskrip dan sastra sampai ke pemanfaatan; masyarakat adat dan kepercayaan; data kebudayaan; kajian pendidikan tinggi; diaspora budaya; keberpihakan khusus; budaya dan lingkungan hidup.

Perwakilan Bidang MGMP bersama Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, Ph.D

Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan) dalam sambutannya mengatakan bahwa hadirnya UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan merupakan sebuah hal yang luar biasa, karena sepanjang Republik ini berdiri, baru sekarang ada aturan yang berbicara secara khusus mengenai kebudayaan. UU tersebut sebenarnya merupakan pengejawantahan dari UUD 1945, pasal 32 ayat 1 bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Pra Kongres Kebudayaan ini adalah amanat dari UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang bertujuan menyusun strategi kebudayaan. Pra Kongres ini merupakan bagian dari Kongres Kebudayaan yang pada penyelenggaraannya bertepatan dengan 100 tahun usia Kongres Kebudayaan. kita berada pada sebuah momen historis, ungkap Hilmar.

Lanjutkan membaca

Ditulis pada Berita AGSI | Tinggalkan komentar

Pembentukan AGSI Provinsi Aceh

Presiden AGSI bersama Guru-Guru Sejarah Provinsi Aceh

Pada hari Minggu, 30 September 2018, bertempat di SMAN 3 Banda Aceh, MGMP Sejarah Provinsi Aceh mengadakan kegiatan dengan mengundang Guru-Guru Sejarah yang mewakili Banda Aceh, Aceh Besar, dan Lhouksmawe.

Kegiatan dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 Stanza dan sambutan Dra. Rusmiati (Guru SMAN 3 Banda Aceh dan Ketua MGMP). Rusmiati dalam sambutannya menjelaskan mengenai perlunya para Guru Sejarah untuk berkumpul dan berdiskusi mengenai profesionalisme. Kegiatan pelatihan-pelatihan semacam ini sangat ditunggu oleh para Guru Sejarah di Aceh, selain menyambung silaturahmi juga meningkatkan kompetensi.

Pemaparan materi dari Sumardiansyah

Sumardiansyah Perdana Kusuma (Presiden AGSI) sebagai narasumber memberikan pemaparan mengenai selayang pandang AGSI dan paradigma pembelajaran sejarah. Usai pemaparan acara dilanjutkan dengan pembentukan AGSI Provinsi Aceh. Pembentukan AGSI dipandu oleh Dra. Khamsiah (Guru Sejarah SMA Darul Imarah) yang secara aklamasi memilih Hizqil Apandi, S.Pd (Guru Sejarah Labschool Syah Kuala) sebagai Ketua AGSI Provinsi Aceh.

Hizqil dalam sambutannya menyampaikan dengan terbentuknya AGSI di Provinsi Aceh, pihaknya akan berupaya berkontribusi memajukan pendidikan Aceh, khususnya pendidikan sejarah. AGSI Provinsi Aceh akan berupaya mendorong pengajaran sejarah di sekolah-sekolah berlangsung dengan gembira, menarik, dan bermakna sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa.

Pembentukan AGSI yang dimulai dari ujung Barat Indonesia dapat menjadi inspirasi, bahwa pergerakan yang dimulai dari “pinggiran” dan berangkat dari daerah akan mengikat simpul-simpul kebhinekaan dan memperkuat posisi AGSI dalam bingkai keindonesiaan, ujar Sumardiansyah.

Ditulis pada Pembentukan AGSI Provinsi | 1 Komentar

Seminar Kurikulum dan Pembentukan AGSI Provinsi Riau

Bersama para Guru Sejarah Provinsi Riau

MGMP Sejarah Provinsi Riau mengadakan seminar bertemakan Dinamika Perkembangan Kurikulum serta Wawasan Pendidikan dan Kesejarahan. Kegiatan berlangsung pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018, bertempat di SMAN 9 Pekanbaru. Kegiatan dihadiri oleh 54 orang Guru-Guru Sejarah mewakili Kota Pekanbaru, Kabupaten Meranti, Kabupaten Kuansing, Kabupaten Bangka, dan Kabupaten Bengkalis.

Adri Karmidi, M.Pd (Guru Sejarah SMA Plus dan Ketua MGMP Sejarah) mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan pelatihan, terutama yang mendatangkan narasumber dari luar. Adri berharap Guru-Guru Sejarah di daerahnya dapat terbuka wawasannya.

Pemaparan materi oleh Sumardiansyah

Sumardiansyah Perdana Kusuma (Presiden AGSI) sebagai narasumber memaparkan mengenai urgensi pendidikan sejarah dalam menumbuhkembangkan historical knowledge, historical awareness, dan historical skills. Narasi sejarah di ruang-ruang kelas harus disampaikan dalam rangka memperkuat identitas kita sebagai sebuah bangsa dan mengarah kepada integritas nasional, tegas Sumardiansyah.

Usai seminar, kegiatan dilanjutkan dengan pembentukan AGSI Provinsi Riau yang secara aklamasi memilih Drs. Maruhum Manik (Guru Sejarah SMAS Cendana) sebagai Ketua AGSI Provinsi. Dalam sambutannya Manik berharap AGSI dapat berperan dalam memajukan profesionalisme dan kesejahteraan para Guru Sejarah, terutama di daerah-daerah.

Sumardiansyah menyerahkan SK Pembentukan AGSI Provinsi Riau kepada M. Manik

Ditulis pada Pembentukan AGSI Provinsi | 1 Komentar

Gelar seminar Kesejarahan dan Pembentukan AGSI Provinsi Papua

Dari kiri narasumber Albert Rumbekwan, Sumardiansyah, Ester Yambeyabdi, Harjuni Serang

MGMP Sejarah Provinsi Papua menggelar Seminar Kesejarahan dengan tema membentuk Karakter Bangsa melalui Pembelajaran Sejarah Lokal. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 6 Oktober 2018 di Hotel D’Green, Jayapura, Papua. Hadir dan turut membuka kegiatan ini Drs. Aloysius Jopeng, M.Pd selaku Kabid GTK Dinas Pendidikan Provinsi Papua.

Seminar ini menghadirkan narasumber antara lain Harjni Serang, S.Pd, M.Si (Ketua MGMP Provinsi Papua), Albert Rumbekwan, M.Hum (Kaprodi Jurusan Sejarah Universitas Cendawasih), Ester Yambeyabdi, M.Hum (Dosen Sejarah Universitas Cendrawasih), dan Sumardiansyah Perdana Kusuma (Ketua Umum AGSI). Peserta berjumlah 50 orang, terdiri dari Guru-Guru SMA, SMK, dan MA dari Kabupaten Kerom, Jayapura, dan Merauke.

Pada kesempatan ini juga dibentuk AGSI Provinsi  Papua yang secara aklamasi memilih Harjuni Serang sebagai ketua AGSI Provinsi. Surat keputusan pembentukan dibacakan langsung oleh Sumardiansyah. Harjuni mengungkapkan, “dengan terbentuknya AGSI akan semakin memperkuat dan menambah motivasi Guru-Guru Sejarah dalam memajukan Pendidikan Sejarah di Provinsi Papua. “Pembentukan AGSI di ujung Timur Indonesia menunjukan bahwa peran daerah-daerah dalam pengembangan organisasi sangat diperlukan”, tegas Sumardiansyah.

Penandatanganan SK Pembentukan AGSI Provinsi Papua

Ditulis pada Pembentukan AGSI Provinsi | Tinggalkan komentar